oleh

BATAS BAHASAMU ADALAH DUNIAMU

Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di perpustakaan Stie Balikpapan untuk cuci referensi yang mulai tertutup oleh debu pragmatisme, sekaligus cuci mata agar kebutuhan jiwa muda saya terupdate. Tak seperti biasanya, sekarang saya lebih membutuhkan waktu beberapa menit untuk mulai menikmati sajian yang diberikan oleh Hanna Garryy LuMach dengan konsep Transsenden LAD Whithot Speaking yang saya pegang. Dalam sajiannya, Hanna mengutip beberapa pepatah dari Zen, bahwa bahasa seseorang adalah mahkota bagi penuturnya. Setiap kata dan bahasa yang ia gunakan adalah tolok ukur, nilai sosial, kewibawaan, dan kehormatan setiap pemilik bahasa tersebut. Sudah sewajarnya jika saya sepakat dengan pendapat Zen yang Hanna kutip, bahwa bahasa adalah cerminan batin yang dapat dinilai oleh setiap orang yang mendengar atau lawan bicara. Jika bahasanya baik dan santun, maka premis pertama yang muncul adalah bahwa ia baik dan santun begitupun sebaliknya.

Beberapa waktupun berselang, gangguan mulai muncul. Mulai dari notifikasi WA dari mahasiswa, ditambah bisikan beberapa sejoli muda  sarjana membuat konsentrasi terganggu. Saya pikir, ahh biarlah. Saya berusa tak peduli, namun salah seorang dari mereka menghampiri saya yang sedang berusaha dan berpura-pura serius.

Kak pangeran? Tanya sejoli itu.
Saya cuman mangguk penuh keheranan.
Sambil melanjutkan pertanyaan, dia duduk di samping saya.
Ngajar apa kak? Lama tak bertemu yah kak lanjutnya .
Saya jawab apa adanya. Kemudian ia bercerita banyak. Sayapun mulai menutup buku yang sedang dibaca sebagai sikap, adab komunikasi, respek, dan hormat kepada lawan bicara untuk menghindari miskomunikasi seperti yang terjadi belakangan di lingkungan kerja saya.

Tak butuh waktu lama untuk saling kenal, ternyata dia adalah salah seorang mantan saya sewaktu SMA dulu, sekarang ia adalah salah seorang mahasiswa yang sedang mencari referensi tentang kepemimpinan dan layanan publik. Ia tertarik meneliti kasus pelayanan publik yang ada di kota Balikpapan yang dinilai miris dan memprihatinkan. Bukan karena soal ketidakmampuan memimpin atau ketidaktahuan cara menjadi pemimpin, namun menurutnya lebih pada aspek manajemen kepemimpinan. Ia mendeskripsikan ke saya beberapa pandangan nya cukup substantif dan sangat urgen dengan apa yang tengah terjadi.
Sayapun ingin bercerita banyak tentang polemik kepemimpinan di Balikpapan termasuk kasus Covid-19 yang seakan-akan terlalu di dramatisasi. Namun selimut dan bantal terasa berisik dan mengganggu konsentrasi saya untuk melanjutkan cerita saya hingga akhirnya saya terbuai dengan ajakannya.

Preset By: Owner edunews-institut.com
Anhar, S.Pd., M.Pd.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed