oleh

MILENIAL INTELEKTUAL DISTANCE

Paradigma milenial intelektual distance seharusnya sudah tidak menjadi asing bagi insan akademik dan lapisan masyarakat modern. Ditambah adanya pendemi Covid-19 yang ikut mempopulerkan hingga memaksa semua lapisan masyarakat menerapkan makna dan substansinya. Selain itu Covid-19 seakan berkolega dengan munculnya konsep pendidikan Era 5.0 yang merupakan instingtif sebagai hasil keputusan konklutif, kontekstualisasi rule, indigenisme, dan vernakularisasi rule secara universal. Ini mempengaruhi Hadirnya realitas sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga agama di di suatu bangsa menjadi gaduh. Dalam tinjauan kultural studies paradigma milenial intelektual distance merupakan bentuk perubahan dari sistem dasar baru yang merujuk pada tataran dasar sosial yang sudah ada ke arah pembaruan sistem tersebut.

Ada beberapa opsi yang ditawarkan sebagai definisi standarnya. Hal yang paling dominan adalah opsi pada semua akses dan fasilitas telah tersedia dan berkembang begitu pesat melalui internet dan digitalisasi. Hal ini seharusnya membentuk proses percepatan belajar secara otodidak maupun mandiri secara signifikan. Tentu ini diluar konsekuensi kemajuan itu sendiri yang mengancam keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat secara global. Milenial intelektual distance adalah fase transformasi informasi, konsep dan meaning sebagai alternatif yang ditawarkan oleh dunia sendiri untuk memperbaiki dirinya. Kalau didefinisikan secara demokratis, tentu saja akan lebih sederhana. Saya belajar sendiri, berlatih sendiri untuk diri sendiri kemudian baru orang lain. Hal ini tentu saja dipadukan dengan tuntutan zaman agar mampu bersaing secara progresif dan akseleratif dari berbagai aspek kehidupannya. Selain itu mereka juga harus sejalan dengan moto dan keselamatan diri dan dunianya.
Dalam demensi lain dapat ditegaskan, bahwa milenial intelektual distance adalah paradigma diametral seorang yang merujuk pada Internet on things (internet untuk segala sesuatu) yang seakan-akan Milenial Intelektual Distance adalah hasil pembentukan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) tanpa harus belajar pada seorang guru atau semacamnya. Hal ini yang mendasari hilangnya rasa respek pada dunia diluar ia bisa dapatkan akses informasi. Sehingga tenggang rasa, solidaritas, dan ikatan primordial akan semakin ikut hilang. Lantas untuk apa hadirnya fasilitas pendidikan seperti sekolah, institut, universitas dan lain-lain kalau dunia sudah membentuk definisi standar yang seperti ini yang seakan-akan sedang disetujui.

 

Present By  Owner edunews-institut.com.
Anhar, S.Pd., M.Pd.
082346335039

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed