by

PROSES BELAJAR YANG IDEAL BAGI MAHASISWA DI PERGURUAN TINGGI

Perguruan Tinggi merupakan jenjang Pendidikan tinggi nasional Indonesia yang kehadirannya diharapkan mampu mencetak manusia-manusia unggul dan berintelektual. Sehingga mampu mengubah masa depan bangsa menjadi lebih baik. Oleh karena itu. Seorang mahasiswa yang menempuh Pendidikan  di perguruan tinggi tidak semata-mata hanya  memiliki kemampuan teknis melainkan juga mempunyai daya, kerangka pikir serta sikap mental dan kepribadian tertentu sehingga mempunyai wawasan luas dalam menghadapi masalah-masalah di dunia nyata. Proses pembelajaran di perguruan tinggi tentu berbeda dengan pembelajaran di bangku Pendidikan dasar, menengah dan atas. Proses pembelajaran di perguruan tinggi berfokus terhadap mahasiswa (student Center). Tingkat terendah dalam dalam belajar adalah emerging, yaitu saat masih dalam proses memulai pembelajaran. Tingkatan selanjutnya adalah developing, yaitu saat seorang mahasiswa sedang mengembangkan pengetahuannya dibantu (Guru,Dosen/mentor). Kemahiran (proficiency) adalah tingkatan selanjutnya. Namun hal tersebut bukanlah tingkatan tertinggi dalam proses belajar. Yang menjadi tingkatan tertinggi dalam proses pembelajaran adalah kemandirian ( independent). Belajar dengan model D3C-B (Datang, Duduk, Dengar, Catat dikurangi Berpikir, Suwardjono 2002) tidak cocok dengan tujuan pembelajar independent.

Bagi Saya, kelas yang menjadi idaman (dan semua pengajar lainnya) adalah kelas yang mempunyai konektivitas didalamnya. Konektivitas dimaksud disini adalah antara Dosen-Mahasiswa-Materi. Konektivitas itu tidak bisa hadir hanya dari usaha dosen saja, atau mahasiswa saja, atau bahkan dari materinya saja yang menarik. Tetapi harus merupakan usaha dari ketiga komponen tadi.: Dosen-Mahasiswa-Materi. Kelas dengan konektivitas tinggi akan menghasilkan nilai tambah yang tinggi pula, baik bagi dosen dan tentu saja bagi mahasiswanya. Hal tersebut, tentu saja di perlukan suatu usaha dalam membangun konektivitas yang tinggi itu. Salah satu hal yang terpenting adalah “Persiapan”. Persiapan baik itu dari sisi dosen maupun dari sisi mahasiswa, persiapan yang perlu di tekankan bagi mahasiswa adalah: Bacalah (Iqra) bukumu sebelum kelas dimulai. Kalau sudah membaca buku sebelum kelas, apa yang terjadi dikelas tidak hanya membahas yang ada dibuku, namun banyak diskusi-diskusi menarik yang datang baik dari pertanyaan maupun tanggapan dari kelas. Sehingga tercipta apa yang di maksud dengan konektivitas yang tinggi tadi.

Namun beberapa kali saya menemui bahwa masih banyak para pembelajar (Mahasiswa) yang sering mengeluh mendapatkan tugas yang tak henti-hentinya dari dosen mereka dan masih banyak alasan lain yang membuat mereka enggan untuk belajar. Mereka menganggap belajar itu sebagai suatu Beban bukan suatu kebutuhan. Mendapati fenomena seperti itu sebenarnya merefleksikan bagaimana system Pendidikan yang kita miliki sekarang. Idealnya, belajar seharusnya menjadi hal yang menyenangkan (Exciting), mencerahkan ( Enlightening). Seperti halnya balita yang sedang belajar berjalan, yang selalu ingin berjalan walaupun sering terjatuh. Namun ia selalu bangkit untuk berjalan karena rasa penasarannya. Atau balita yang penasaran atas semua hal di sekitarnya, sehingga setiap sudut rumah dan tempat ia berada menjadi taman bermainnya. Metafora ini yang seharusnya merefleksikan bagaimana perjalanan pembelajaran (learning journey) seseorang di dalam hidupnya. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu luar biasa luasnya sehingga sampai mati pun semangat belajar dan keingintahuanmu tidak akan pernah terpuaskan. Mungkin itulah sejatinya proses belajar dalam hidup.

Pertanyaannya adalah, mengapa sebagian orang merasa bahwa belajar adalah suatu beban? Jika dapat saya refleksikan pada diri saya sendiri, mungkin salah satu jawabannya adalah bahwa belajar tidak dilandasi oleh semangat yang murni seperti halnya balita di atas tadi. Motivasi belajar dilandasi oleh semangat yang bersifat fana dan material (misalnya, mendapat gelar, pekerjaan yang lebih baik, status social yang lebih terpandang, bahkan membahagiakan orang tua, dlsb). Apakah semangat seperti ini salah? Tidak ada yang benar/salah disini. Namun ini cenderung menjadi beban, bukan menjadi cahaya di ruang gelap, atau menjadi oksigen yang mengisi paru-paru. Karena sesungguhnya hal-hal Fana tadi hanya sebuah konsekuensi logis dari proses dan semangat belajar yang baik, tetapi bukan itu bahan bakarnya, dan bukan pula tujuan akhirnya. Pemikiran ini juga menjadi landasan bagi mahasiswa saya yang masih belajar di bangku kuliah. Saya tidak ingin belajar menjadi suatu beban baginya, tapi menjadi suatu hal yang sangat mereka tunggu-tunggu, dan bersemangat karena ada hal baru yang dapat ia pelajari. Sungguh saya membayangkan mahasiswa-mahasiswa kita selalu memiliki semangat ini. Saya tidak percaya bahwa kita dikotak-kotakkan dengan kategori pintar dan bodoh, tapi saya lebih percaya kita dibedakan karena kerja keras kita.

 

Oleh : Ready Wicaksono,S.E.,M.Ak.,Ak.,CA

Dosen Ilmu Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

  1. Bagi mahasiswa yang masih menganggap belajar sebagai beban maka harus merubah prespektif mereka bahwa belajar itu sebenarnya menyenagkan dan mencerahkan. Belajar itu bagaikan balita dalam proses tumbuh kembangnya meskipun sering jatuh saat berjalan, tetap terus dilakukan dengan senang. Proses jatuh bagun balita akan membuahkan hasil ketika sudah beranjak besar nanti mereka bisa berjalan dan melakukan hal lain. Belajar juga harus disertai rasa semangat untuk terus belajar menyelami dunia pengetahuan yang luas luas ini.

  2. sependapat dengan apa yang dikatakan bapak Ready Wicaksono,S.E.,M.Ak.,Ak.,CA,
    terus berkarya dengan tulisan-tulisannya pak…

  3. sependapat dengan apa yang disampaikan bapak Ready Wicaksono,S.E.,M.Ak.,Ak.,CA..
    terus berkarya dengan tulisan-tulisannya pak….sukses selalu

  4. Saya sependapat dengan apa yang ditulis oleh penulis, Belajar sebenarnya bukan menjadi suatu beban, melainkan prespektif seseorang yg salah dalam berfikir seperti itu. Jika belajar itu dijadikan sebuah hobi, maka belajar akan menjadi sangat menyenangkan. Intinya bagaimana perspektif seseorang dalam belajar. Dalam proses belajar kita akan mengetahui dan memahami sebuah ilmu yang kita dapatkan, kita refleksikan dalam kehidupan sehari hari. Awal proses belajar memang tidak mudah, akan tetapi setalah kita merasakan manfaatnya belajar akan menjadi hobi dalam kehidupan pribadi masing masing.

  5. Mahasiswa dewasa ini terlalu sering mengeluh daripada belajar. Rasa ingin tahu tentang pengetahuan sangat rendah, mereka lebih tertarik dengan media sosial yang hampir tidak mempunyai hal-hal yang ilmiah di dalamnya. Saya sependapat dengan penulis bahwa dalam diri mahasiswa harus memiliki semangat untuk belajar agar menjadi manusia yang berkualitas. Semangat untuk para pendidik!

News Feed