by

Nawacita Islam Nusantara

-Agama, Religius-281 views

Oleh: Anhar, S.Pd.,M.Pd

Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifat, kecendrungan, dan tujuannya sama) makan akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda, makan saling bercerai-berai (selisih). (HR. Bukhari Muslim)

Sejenak mari kita tinggalkan keberagaman keyakinan serta praktik-praktik nilai Islam dari berbagai persektif bangsa maupun yang bersifat organisatoris  untuk lebih  menengok kepada nilai-nilai persatuan dan nasionalisme yang akan membawa kepada nilai peradaban serta persatuan sebangsa dan setanah air.

Dalam banyak kasus ideologi agama, tidak ada “jembatan” yang bisa kita gunakan untuk bergerak bebas dari peradaban yang satu ke peradaban yang lain, tak jarang sebuah kelompok organisasi agama terbangun dari materi-materi yang terakumulasi dari sejarah dan nilai-nilai  di luar dari persektif yang sesuai dengan sebuah bangsa dan negara, di Indonesia taruhlah itu bernama NKRI.

Tak jarang sebuah agama resmi terbentuk dari sebuah kekaisaran atau pengaklaiman dari sebuah bangsa, terbangun dan diakaui berkat pertumbuhan yang tak terusik dari kayakinan sebuah kelompok suku atau bangsa, meski tidak bisa sepenuhnya agama tersebut  menjamin bahwa hasil yang dicapai mampu mempersatukan antra suku atau kelompok yang berbeda dari sebuah kekaisaran tersebut. Taruh saja sebagai contoh di arab.

Meski di arab memilik agama dan keyakinan tunggal yaitu Islam yang berkuasa pada saat itu, akan tetap masih saja terjadi perpecahan bahwan perang saudara setelah wafatnya baginda Nabi Saw, ini dikarenakan ada sebuah sistem yang memaksa mempersatukan seluruh suku dan kekaisaran saat itu yang berbeda tradisi dan kondisi sosial masyrakat.

Dengan Merujuk pada  kondisi keragaman keneragamaan di NKRI, saya teringat  pada kasus transissi dua peradaban besar yang muncul di Dunia Baru (awal kemunculan Benoa Amerika) yang ditemukan oleh penjajah spanyol abad ke 16.

Pada saat itU Meksiko menguyuhkan  satu jenis pemujaan yang tersusun dari elemen-elemen yang dalam ritual pemujaannya yang begitu agung dan megah, akan tetap tidak berperikemanusiaan, ada lagi di Peru, yang sering di sebut bangsa Inca,menganut ideology  tutur dela vega yang berarti  setiap provinsi memiliki dewa yang berbeda antra satu dengan yang lain.

Agak-agaknya sistem-sistem seperti telah tumbuh dan subur kembali di tanah NKRI dimana setiap provinsi dan daerah mengklaim bahwa kami dari kalangan ormas Islam A atau Ormas Islam B atau semacamnya yang seakan-akan tidak memikili pendiri atau utusan yang pasti sehingga rujukan yang digunakan berbeda antara satu dengan yang lain.

Adalah sebuah langkah besar dalam kemajuan Indonesia membentuk Nawacita Islam Nusantara, di mana semua tatanan kelompok ormas atau semacamnya memiliki payung dasar dalam menjalankan sebuah nilai-nilai keagamaan sehingga titik persatuanpun akan terlihat dan terlahir.

Hal ini akan otomatis  menumbuhkan nasionalis (walau awalnya seakan-akan dipaksa) yang tinggi akan tetapi tidak akan mengganggu esensi dan karakter mereka sebagai sebuah anggota ormas Islam  A B atau semisalnya. Inilah langkah awal terlahirnya NKRI itu yang berbasis spiritual agamais, sebab hukum dan pancasila mengambi alih atas semua kepentingan kelompok tertentu  menjadi kepentingan umum.

Tugas  Negara yang  berkewajiban menjaga kerukunan antara ummat beragama, dan Negara wajib menjaga dan melindungi warga yang lemah atau minoritas, sehingga pada titik ini akan muncul stigma dan sentiman perikemanusiaan dan perikeadilan yang kemudian kondisi seperti ini akan mengantarkan sebuah bangsa pada perkembangan dan kemujuan baik secara teknologi informatife tapi juga dalam ranah spiritual keagamaan.

Semua praktek inilah yang kemudian ingin disampaikan  oleh Nawacita Islam Nusantara, dimana, konsep tersebut akan melahirkan sistem promodialisme dan ikatan sosial yang baru. Dimana sesama pemeluk agama mengharuskan memiliki sikap dan solidarita yang tinggi dan saling menjunjung nilai-nilai persatuan yang dimiliki setiap pemeluknya. Hal ini hanya dapat dicapai ketika ada  dasar yang menjadi induk dari seluruh komponen dan keyakinan itu yakni Islam Nusantara.

Jika kembali menyimak kasus Benoa Amerika pada awal abad ke 16 diawal, Nawacita Islam Nusantara ibarat sebuah refleksi dan penguatan baru bahwa, ketika agama Islam secara nasional muncul, maka kewajiban sosial yang juga akan muncul sebagai keharusan (bukan wajib) seperti hubungan yang sukarela dan ikhlas antara pemerintah dan masyarakat dan masyarakat dengan pemerintah.

Selain itu, kawajiban moral yang menyertai setiap penganutnya, menjadi lebih murni ketimbang berdasarkan dari beragai macam versi bangsa dan kelompok.

Dalam konteks seperti inilah, Nawacita Islam Nuasantara bukan hadir sebagai  ajaran agama baru aatau pembaruan konsepsepsi Islam seperti yang banyak dituduhkan oleh sebagian pihak, Nawacita Islam Nusantara adalah bentuk refleksi pemikiran yang berlandaskan pada aspek-aspek sejarah Nusantara yang dibentuk dengan kalimat Tauhid agar muncul rasa nasionalisme secara kolektif ketika mengumandangkan kemerdekaan.

Nawacit  Islam Nusantra juga tidak membenarkan aksi-aksi maupun tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam seperti harus menyanyikan Indonesia raya terlebih dahulu sebelum salat dan lain. Tidak! Nawacita Islam Nusantara hadir untuk mencegah tindakankan seperti LBGT dan anarkisme lainnnya tampa mencari kompromi dan payung hukum untuk membenarkan hal semacam itu.

 

Dosen STIE Balikpapan

Wakil Kepala BAAK STIE Balikpapan

Wakil Kepala Lembaga Bahasa STIE Balikpapan

Founder edunews-institut.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed