by

SELAMAT NATAL YAH. SUDAH TOLERANSI ?

Ada khilaf dari sebagian ulama yang mengatakan boleh saja dan sebagian lain mengharamkankannya.  Hal ini berdasar dari rujukan Al-Qur’an dan hadist dari masing-masing ulama dengan berbagai penafsiran dan pertimbangan.

Terlepas dari pendapat ulama yang sama-sama merujuk pada ayat Al-Qur’an dan hadist, saya pribadi  berpendapat haram mengatakan selamat natal berdasarkan referensi yang saya pahami baik persektif teologis dan sosiologis.

Dalam kasus mengucap selamat natal,  saya merujuk beberapa perbandingan selain yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist, yaitu dari sisi pengetahuan dan keyakinan ummat kristiani itu sendiri. Dalam tesis saya disebutkan, jika saya mengatakan selamat natal. Ada beberapa hal yang hadir sebagai refleksi ucapan itu.

Pertama,  memperkuat aepologikal keililahian Yesus lewat saya. Sebab,  kesaksian keiliahian Yesus juga wajib dihadirkan dalam kayakinan ummat Nasrani

Kedua, saya akan di kategorikan penganut paganistik, yaitu sebagai musuh yang dimanfaatkan untuk menghancurkan musuh.

Ketiga, singkritistik, dengan anggapan hanya sekeder ucapan penghormatan, maka boleh saja mengucap dengan tidak merusak akidah dalam hati (hal ini juga pernah sampaikan Qurai Sihab berdasarkan tafiran beliau tentang Al-Qur’an surah  Mariam Ayat 23).

Keempat, berkiblat dari definis toleransi. Toleransi sebenarnnya secara terminologi teologis  bermakna tidak saling mengganggu, yaitu “lakum diinukum wa liya diin” (Untukmu agamamu, dan untukku agamaku“) jadi urusan agama, yah masing-masing, jangan saling tarik menarik dalam urusan agama. Toleransi juga bukan bentuk saling menghormati agama, tapi tolarensi adalah bentuk membiarkan perilaku beragama dan tidak mengganggu keyaikanan mereka. Di sisi lain secara sosiologis saling membiarkan sebagai bentuk simbolis menghormati sebagai manusia dan individu. Jadi tidak mengucapkan selamat natalpun sudah masuk dalam ranah toleransi. Jadi jika sampai mengucap selamat natal, itu sudah merusak eksistrnsi toleransi itu sendiri…

 

Dari empat aspek itu,  saya berkeyakinan dan menyimpulkan  “haram mengucapkan selanat natal”. Pembeda antara muslim dan kafirpun sudah jelas yaitu,  muslim mengucapkan  sahadat dan yang kafir belum dan atau tidak akan mau mengucapkan sahadat sebagai bentuk toleransikan?

 

Wallohualam…

 

Oleh: Anhar, M.Pd

Wakil Ketua Lembaga Bahasa Stie Balikpapan

Wakil Ketua BAAK Stie Balikpapan

Dosen Stie Balikpapan

Owners edunews-institute.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed