by

TUHAN YANG MATI

Tuhan adalah absolutisme deferensial berdasarkan standar keyakinanan. Selanjutnya  dunia adalah tempat abstrakisme  nalar  dalam kehidupan oleh manusia. Ada beragam cerita di sana, namun kali ini  aku lebih tertarik kepada apa yang mereka sembah. Mereka menyebutnya Tuhan, dalam banyak persepsi individual kolektif di benak mereka, ada Tuhan baik dan Tuhan jahat, keduanya kerap kali mengadakan rapat ditengah kesibukan mahluk yang menyembah mereka, entah apa yang apa yang mereka bahas di sana, aku menyimak keduanya dari jauh, aku coba mendekati keduanya.  Namun, aku tak bisa melihat dan mendengar keduanya, Kemudian aku menjauhi keduanya dan hal yang sama aku dapatkan.

Beberapa saat aku lantas mencoba bertanya kepada seorang yang aku melihat darinya berpenampilan  seperti orang baik, berpakaian bersih, memiliki watak yang luhur, santun, dan sangat ramah kepadaku. Kemudian aku tanyakan perihal hal yang aku tak mengerti dari Tuhan baik dan Tuhan jahat lakukan.

Dengan  senyum ia menjawab,  yang kau lihat adalah kebaikan Tuhan, dia memberimu segala yang kau perlukan, lebih dari yang kau perlukan, jika kau menyadarinya, kau kan melihatnya baik jauh maupun dekat, lantas ia pergi meninggalkanku.

Kemudian seseorang dengan wajah lesu, kotor, sangar, ia seperti sosok yang sangat jahat dan tak mengenal takut. Ia mendekatiku dan menertawaiku. Kemudian  ia memulai kalimatnya, aku orang yang sama  yang engkau lihat, lantas aku membelakanginya, iapun  membelakangiku kemudian  ia berbisik, jika kau setuju dengan apa yang  kamu dengar tadi, maka ialah Perumpamaan Tuhan yang baik, maka ikutilah apa yang ia katakan.

Kemudian aku melihat bayanganku bercerita kepadaku, ia menyapaku, hay… jika  keduanya mati di hatimu, sehingga semua hidup terasa mati di pikiranmu.   ikutilah pikiranmu, kemudian kamu dengarkan orang akan memberikanmu hal yang sama seperti yang kamu pikirkan tentang Tuhan itu.

Anggap saja, itu hal yang sepadan, ketika kamu menilai Tuhan dengan absolitisme tanpa dasar dan keyakinan tentang Tuhan dalam persepsimu.

Anhar’s Poem

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed