by

ABILITAS TRANSINTELEKTUAL

Membaca buku untuk pertama kalinya seperti berkenalan dengan seorang teman baru, membacanya untuk kedua kali seperti bertemu dengan teman lama, lewat membaca kita dapat memahami orang lain sebagai  kebijaksanaan, memahami diri sendiri sebagai  pencerahan, mendeterrminasikan pengetahuan sebagai ilmu. Begitulah dinamika keilmuan yang terbenak ketika penulis  membaca beberapa tugas mahasiswa beberapa hari ini. Dinamika kehidupan untuk memahami dan dipahami seperti dua mata pisau atau sebuah koin yang memiliki perbedaan antara satu sisi dengan sisi yang lain, dalam kehidupan akademik dapat dikonkretisasikan dalam bentuk perilaku akademis yang sarat dengan keilmiahan,  khususnya dalam proses penambahan referensi pengetahuan dan atau referensi perilaku akademik itu sendiri.

 

Ada beragam cara untuk memanifestakan hal tersebut,  bergantung selera dan tingkat pahaman keilmuan yang individu capai. Penulis  secara pribadi masih dalam level yang sangat rendah seperti membaca sebagai akses retrevied information.

 

Hasil bacaan yang dijumlahkan dengan hasil bacaan yang lain, tentu saja tidak sama dengan menjumlahkan dengan teori matematika atau teori semisalnya yang pasti 1+1=2. Penjumlahan jumlah bacaan itu kemudian akan  dikonkretisasi dalam bentuk pembentukan pembaruan informasi menjadi  generation ideas progress. Dengan kata lain,  pembaruan ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan adopsi-adopsi yang menjadikan induk baru dari pemahaman individual, determinasi bagi mereka yang sudah sering menjumlahkan pengetahuan dan bacaan yang secara tidak langsung mengantar mereka ke tingkat tertinggi yaitu in depth trem memories, penulis lebih suka menyebut ini sebagai  level di atas guru besar atau profesor yang mampu mensintesiskan banyak keilmuan.

 

Bagi pemula seperti penulis  yang masih di tahap superficial short trem memory, yaitu membaca untuk keperluan sesaat dan untuk keperluan jangka panjang yang dipersiapkan secara abstrak, secara sederhana penulis  mengkombinasi antara bacaan yang berat,  jika terkendala dalam suasana jenuh karena kebingungan dan ditambah dengan semakin besarnya paragmatisme.

 

Wajar saja, jika minat baca  diganti pada  bacaan yang lebih menyenangkan, media sosial contohnya, scrool tiktok dan aktifitas menyenangkan lainnya, kemudian  pindah  ke bacaan utama, tujuannya  agar membunuh kejenuhan atas kebingungan dari bacaan yang berat.  Ketika  suasana hati membaik,  saya lanjutkan lagi kebacaan yang berat. Hal ini perlu dilakukan, sebab orang yang terlalu banyak membaca akan sedikit sedikit memakai kreatifitasnya dan akan jatuh pada kebiasaan malas berpikir.

 

Oleh
Anhar, S.Pd., M.Pd.
Wakil Kepala Biro Akademik Kemahasiswaan STIE Balikpapan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed